Nikmat Allah dan Mensyukuri-Nya
A. Kajian Tentang Nikmat Allah dan Cara Mensyukurinya
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah
dikaruniakan Allah kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu
nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak
membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan
banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih
apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk
menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu
mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat.
Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk
itu sendiri sangat butuh kepada Allah.
Syukur berarti ucapan sikap, dan perbuatan
terimakasih kepada allah swt, dan penggakuan yang tulus atas nikmat dan karunia
yang diberikannya. Nikmat yang diberikan sangat banyak dan bentuknya
bermacam-macam, disetiap detik yang dilalui maninusia tidak pernah lepas
dari nikmat allah, nikmatnya sanggat besar. Sehingga mausia tidak akan dapat
menghitungnya.
B. Ayat al-Qur’an Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya
1. Surat az-zukhruf ayat 9-13
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ {9} الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ
اْلأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {10}
وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً
مَّيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ {11} وَالَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلَّهَا
وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَاْلأَنعَامِ مَاتَرْكَبُونَ {12} لِتَسْتَوُا
عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ
وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَاكُنَّا لَهُ
مُقْرِنِينَ {13}
Terjemah Ayat:
(09) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka:
"Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan
menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui".
(10) Yang menjadikan bumi untuk kamu
sebagai tempat menetap dan dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu
supaya kamu mendapat petunjuk.
(11) Dan yang menurunkan air dari
langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri
yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).
(12) Dan yang menciptakan semua yang
berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu
tunggangi.
(13) Supaya kamu duduk di atas
punggungnya Kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu Telah duduk di
atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang Telah
menundukkan semua Ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu
menguasainya,
a. Makna Mufrodat
Kalian akan dikeluarkan/dibangkitkan (dari kubur)
|
تُخْرَجُوْنَ
|
Dan sungguh apabila
|
وَ لَءِىنْ
|
Dan Dia yang
|
وَالَّذِيْ
|
Kamu tanyakan kepada mereka
|
سَاَلْتَهُمْ
|
Telah menciptakan
|
خَلَقَ
|
(tentang) siapa
|
مَّنْ
|
Pasangan-pasangan
|
الْاَزْوَاجَ
|
(yang) telah menciptakan
|
خَلَقَ
|
(atas) semua makhluk
|
كُلَّهَا
|
Semesta langit
|
السَّمَوَتِ
|
Dan Dia telah menciptakan
|
وَجَعَلَ
|
Dan bumi
|
وَالْاَرْضَ
|
Untuk kalian
|
لَكُمْ
|
Niscaya mereka menjawab
|
لَيَقُوْلُنَّ
|
(Berupa)
|
مِّنْ
|
(yang) telah menciptakan langit dan bumi
|
خَلَقَهُنَّ
|
Kapal-kapal
|
اْلفُلْكِ
|
(Allah) yang maha perkasa
|
الْعَزِيْزُ
|
Dan hewan-hewan ternak
|
وَالْاَنْعَامِ
|
Maha mengetahui
|
الْعَلِيْمُ
|
(sebagai) sarana
|
مَا
|
Dia yang
|
الَّذِيْ
|
(yang) kalian dapat tnggangi
|
تَرْكَبُوْنَ
|
Telah menciptakan
|
جَعَلَ
|
Supaya kalian dapat duduk/berada
|
لِتَسْتَوُا
|
Untuk kalian
|
لَكُمْ
|
Diatas
|
عَلَ
|
Bumi
|
الْاَرْضَ
|
Punggung-punggungnya
|
ظُهُوْرِهِ
|
(sebagai) tempat menetap/tidur
|
مَهْدًا
|
Kemudian
|
ثُمَّ
|
Dan Dia telah menciptakan
|
وَّجَعَلَ
|
Kalian mengingat
|
تَذْكُرُوْا
|
Untuk kalian
|
لَكُمْ
|
Nikmat
|
نِعْمَةَ
|
Didalam bumi
|
فِيْحاَ
|
Tuhan pencipta kalian
|
رَبِّكُمْ
|
Jalan-jalan
|
سُبُلاَ
|
Ketika
|
اِذَا
|
Supaya kalian
|
لَّعَلَّكُمْ
|
Kalian telah duduk berada
|
اَسْتَوَيْتُمْ
|
Mendapat petunjuk/tidak tersesat
|
تَهْتَدُوْنَ
|
Diatasnya
|
عَلَيْهِ
|
Dan Dia yang
|
وَالَّذِيْ
|
Dan supaya kalian mengucapkan
|
وَتَقُوْلُوْا
|
Telah menurunkan
|
نَزَّلَ
|
Maha suci
|
سُبْحَنَ
|
Dari
|
مِنْ
|
Dia yang
|
الَّذِيْ
|
Langit
|
السَّمَا~ءِ
|
Telah menundukan
|
سَخَرَ
|
Air (hujan)
|
مَا~ءِ
|
Untuk kami
|
لَنَا
|
(sesuai) dengan ukuran
|
بِقَدَرٍ
|
(Semua) ini
|
هَذَا
|
Lalu kami hidupkan/suburkan
|
فَاَنْشَرْنَا
|
Dan tidaklah
|
وَمَا
|
Dengan air itu
|
بِهِ
|
Kami dahulu
|
كُنَّا
|
Sebuah negeri
|
بَلْدَةً
|
Terhadap semua ini
|
لَهُ
|
(Yang) mati/tandus
|
مَّيْتًا
|
(adalah) orang-orang yang mampu menguasai
|
مُقْرِنِيْنَ
|
Seperti itulah
|
كَذَلِكَ
|
b.
Penjelasan Ayat
Ayat ke 9, menurut Abu Ja’far Muhammad maksud ayat ini adalah jika kamu tanyakan hai Muhammad kepada orang-orang
Musyrik dari kaummu itu, “Siapa yang menciptakan langit dan bumi, mengadakan
dan membentuknya?” Niscaya mereka menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang maha
Perkasa dalam pengaruh kekuasaan dan balasan-Nya terhadap musuh-musuhNya, yang
maha mengetahui semua ciptaan itu dengan segala yang ada di dalamNya. Tidak ada
sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya.[1][1][1]
Sedangkan Menurut Syekh Imam AL-Qurtubi dalam ayat ini Allah menjelaskan
bahwa orang-orang kafir pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi beserta
isinya adalah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, namun demikian mereka
menyembah selain Allah dan mengingkari kekuasaan-Nya.[2][2][2]
Penjelasan ayat ke 10, maksudnya adalah Allah yang menjadikan bumi
terhampar bagimu.Dia menjadikan bumi bagimu pijakan yang dapat kamu pijak
dengan telapak kakimu dan kamu dapat berjalan di atasnya dengan kakimu. Allah
membuatkan jalan-jalan yang landai di atas bumi, yang dapat kamu tempuh dari
satu negeri ke negeri lain untuk keperluan penghidupan dan pendengaranmu.[3][3][3]
Sedangkan menurut Syekh Imam
Al-Qurtubi bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyifati Dzat-Nya yang maha
suci dengan kekuasaan yang sempurna.Firman Allah ini merupakan awal
pemberitahuan dari Allah tentang dzatNya.Supaya kalian mengakui nikmat Allah
yang diberikan kepada kalian dan supaya kalian mendapat petunjuk menuju
penghidupan kalian.[4][4][4]
Ayat ke 11 dan 12, maksudnya adalah
bahwa Allah menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan), artinya
menurut Ibnu Abbas yang dikutip oleh AL-Qurtubi yakni air yang diturunkan itu
bukan seperti air yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh yang tidak menurut
ukuran yang diperlukan sehingga air itu menenggelamkan mereka. Akan tetapi air
yang diturunkan itu sesuai dengan kadar yang diperlukan, bukan berupa badai
yang menenggelamkan bukan pula kurang dari apa yang dibutuhkan sehingga ia
dapat menjadi penghidupan bagi kalian dan binatang ternak kalian.[5][5][5]
Ayat 12 dan 13 maksudnya adalah Dia yang menciptakan segala sesuatu, lantas
menjadikannya berpasang-pasangan yaitu dengan menciptakan perempuan sebagai
pasangan laki-laki, dan menciptakan laki-laki sebagai pasangan perempuan. …وَجَعَلَ لَكُمْ
مِنَ الْفُلْقِmaksudnya adalah bahwa Allah
menjadikan kapal-kapal bagimu yang dapat kamu kendarai di laut kea rah yang
kamu kehendaki dalam perjalananmu di laut untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan
hidupmu. Sedangkan hewan ternak dapat kamu kendarai di darat ke arah manapun
yang kamu tuju, seperti unta, kuda, bighal dan keledai.[6][6][6] …لِتَسْتَوُوْا
عَلى ظُهُوْرِهِsupaya kamu dapat berada di atas
punggung hewan yang kamu kendarai. Kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu yang
dianugerahkan kepadamu, berupa ditundukannya semua fasilitas kendaraan itu
bagimu di darat dan di laut.
2. Surat Al-Ankabut Ayat 17
اِنَّمَا
تَعْبُدُ وْ نَ مِنْ دُ وْنِ اللهِ اَ وْثَا نًا وَّتَخْلُقُوْ نَ اِفْكًا اِنَّ
الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لَايَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا
فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهُ اِلَيْهِ تُرْ جَعُوْنَ
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan
kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu
memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah
Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.
a. Makna mufrodat
Tidak mereka memiliki (mampu
Memberi)
|
لَايَمْلِكُوْنَ
|
Sungguh apa yang
|
اِنَّمَا
|
Untuk kalian
|
لَكُمْ
|
Kalian sembah
|
تَعْبُدُوْنَ
|
Rezeki
|
رِزْقًا
|
Dari
|
مِنْ
|
Maka carilah/mintalah
|
فَبْتَغُوْا
|
Selain
|
دُوُنِ
|
Disisi
|
عِنْدَ
|
Allah
|
اللهِ
|
Allah
|
اللهِ
|
(hanya) berhala-berhala
|
اَوْثَانً
|
Rezeki
|
الرِزْقَ
|
Dan kalian menciptakan(mengatakan)
|
وَتَحْلُقُوْنَ
|
Dan sembahlah
Dia(beriman dan taat
|
وَاعْبُدُوْهُ
|
Kebohongan
|
اِفْكَا
|
Dan bersyukurlah kalian
|
وَاشْكُرُوْا
|
Sesungguhnya
|
اِنِّ
|
Kepada-Nya
|
لَهُ
|
Yang
|
الَّذِيْنَ
|
Kepada-Nya
|
اِلَييْهِ
|
Kalian sembah
|
تَعْبُدُوْنَ
|
Kalian akan dikembalikan
|
تُرْجَعُوْنَ
|
Dari
|
مْنْ
|
Selain
|
دُوْنِ
|
||
Allah
|
اللهِ
|
b. Penjelasan ayat
(Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain
Allah itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan
kebohongan, bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu-sekutu Allah. (Sesungguhnya
yang kalian .sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada
kalian) maksudnya mereka tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian (maka
mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu kepada-Nya (dan
sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan
dikembalikan). [7][7]
c.
Asbabunnuzul ayat
Pada mulanya ayat 17 surah
al-Ankabut ini, menceritakan umat Nabi Ibrahim yang tidak mau menyembah Allah.
Bahkan mereka menyembah patung-patung buatan mereka sendiri. Dengan demikian
Allah menjelaskan bahwa patung-patung atau lainnya yang mereka sembah selain
diri-Nya, tidak bias berbuat apa-apa. Apalagi memberi rezeki untuk
kehidupannya.Hanya dari sisi Allahlah rezeki itu didapat. Oleh karena itu
sehrusnya mereka hanya menyembah Allah dan bersyukur kepada-Nya, sebab mereka
pun akan dikembalikan kepada-Nya.
M.Quraish Shihab mengatakan bahwa
ayat tersebut adalah teguran kepada umat Nabi Ibrahim, yang menyembah
berhala-berhala untuk mengharap mendapat rezeki dari apa yang disembahnya. Lalu
ditegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu memberikan rezeki dan tidak
patut untuk disembah. Sebagaiman Allah menggunakan kata ”rizqoo” yang
konteks kalimatnya adalah menafikan kemampuan berhala.[8][8][8]
Kemudian Allah menggunakan kalimat “fabtaghuu” artinya mintalah.Dan
“arrizqi´ artinya rezeki secara umum (segala bentuk rezeki). Dan adanya
penambahan huruf ”ta” pada kalimat “fabtaghuu” digunakan sebagai
penegasan bahwa untuk mendapatkan rezeki Allah itu hendaknya dengan berusaha
sungguh-sungguh. Di ayat itu juga Allah mempertegas
agar kita menyembahnya, karena hanya Dia yang patut disembah.Dia yang
memberikan segala rezeki kepada oleh karena itu Allah melanjutkan firman-Nya
dengan perintah untuk mensyukurinya.
Begitu banyak nikmat yang telah
kita terima dari Allah SWT.Negara ini telah mendapatkan nikmat lahan yang
subur, kandungan sumber daya alam melimpah, dan masyarakat Muslim yang sangat
banyak.Diri-diri kita telah mendapatkan nikmat hidup berkecukupan, anak-anak
yang sehat dan cerdas, pasangan hidup yang beriman. Bukan itu saja, masih
banyak nikmat-nikmat yang lain, yang jika kita mencoba menghitungnya, niscaya
tidak akan mampu. Allah SWT berfirman:
وَاِنْ
تَعُدُّوْا نِعْمَتَهُ اللهِ لاَ
تُحْصُوْهَا اِنَ اللهَ لَغَفُوْرُ رَّحِيْمٌ
Artinya :“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”(QS An Nahl : 18).
C. Hadits Tentang Nikmat Allah dan Cara Mensyukurinya
Hadits Tentang Cara Mensyukuri Nikmat
1.
Teks Hadits
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ
مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا
تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ[15]
2.
Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : lihatlah kepada orang yang lebih
rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal
itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu. (Muutafaq ‘Alaih)[9][9][9]
3. Penjelasan
Hadits
Dalam hadits di atas, nabi menyuruh kaum muslimin
agar memandang orang memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai
bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya
maupun yang lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung
dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib
mereka. Sebaliknya nabi saw. melarang kaum muslimin memandang orang yang di
atas mereka sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan
bukan mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul
persangkaan yang buruk kepada Allah swt. bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan
dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat. Kaum muslimin dibenarkan
melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan
kenjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut
ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama.
D. Cara Mensyukuri Nikmat Allah Ta’ala
Bersyukur kepada Allah ta’ala artinya adalah menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Bersyukur kepada Allah ta’ala atas nikmat-nikmat-Nya bukanlah sekedar dengan mengucapkan hamdalah atau bersujud syukur. Akan tetapi ada cara lain yang lebih umum untuk bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla. Ada tiga cara bersyukur yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Al Qaulul Mufid (1/268), yaitu:
1. Bersyukur dengan hati.
Yaitu dengan meyakini dan mengakui bahwa segala nikmat yang dia dapatkan pada hakikatnya adalah berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala semata. Adapun peran manusia yang memberikan suatu kemanfaatan kepada kita, semua itu hanyalah suatu sebab dan perantara yang mana semuanya itu sangat bergantung kepada izin dari Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, Maka dari Allah-lah (datangnya).” [QS An Nahl: 53]
2. Bersyukur dengan lisan.
Yaitu dengan membicarakan kepada orang lain tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya sebagai bentuk rasa syukur dan pengakuan kepada Allah, bukan dengan tujuan untuk membanggakan diri dan menimbulkan rasa iri kepada orang lain.
Allah ta’ala
berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” [QS Adh Dhuha: 11]
Contohnya adalah kisah seorang yang buta lalu disembuhkan oleh Allah dan dianugerahi kambing yang banyak. Ketika datang seorang malaikat utusan Allah untuk mengujinya dengan meminta seekor kambingnya, lelaki itu menjawab: “Dahulu aku adalah seorang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku kepadaku. Dahulu aku adalah seorang yang miskin, lalu Allah memberikan kekayaan kepadaku.
3. Bersyukur dengan anggota tubuh.
Yaitu dengan cara menggunakannya untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah ta’ala.
Demikianlah cara-cara bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat-Nya. Dengan bersyukur, maka nikmat Allah akan semakin bertambah. Sebaliknya, jika tidak bersyukur, maka azab dari Allah akan datang mengancam. Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ
عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS Ibrahim: 7]
Mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain adalah bentuk mensyukuri nikmat ilmu. Menafkahkan harta di jalan Allah adalah bentuk mensyukuri nikmat harta.Mengonsumsi makanan untuk menyehatkan tubuh dan tidak membuangnya adalah bentuk mensyukuri nikmat makanan.Demikianlah seterusnya.[10]
[1][1][1]Abu Ja’far Muhammad, Tafsir Ath-Thobari, Penerjemah
Misbah Abdul Somad, Abdurrahim Supandi, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2009) hal. 964
[2][2][2]Syekh Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Penerjemah
Ahmad Khotib, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2009), hal.160
[8][8][8]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah
Pesan dan Kesan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta, Lentera Hati, 2002),
hal. 461
Comments